SEJARAH STIMLOG


Berawal dari pemikiran strategis bahwa Sistem Logistik Nasional yang efektif dan efisien diyakini mampu mengintegrasikan daratan dan lautan menjadi satu kesatuan yang utuh dan berdaulat. Harapan menjadikan Indonesia sebagai “supply side” yang dapat memasok dunia dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dan hasil industri olahannya, sekaligus menjadi pasar yang besar atau “demand side” dalam rantai pasok global karena jumlah penduduknya yang besar.

Namun kenyataannya saat ini kinerja Sistem Logistik Nasional masih belum optimal, berdasarkan survei Indeks Kinerja Logistik (Logistics Performance Index/LPI) oleh Bank Dunia yang dipublikasikan pada tahun 2010 posisi Indonesia berada pada peringkat ke-75 dari 155 (seratus lima puluh lima) negara yang disurvei, dan berada di bawah kinerja beberapa negara ASEAN yaitu Singapura (peringkat ke-2), Malaysia (peringkat ke-29), Thailand (peringkat ke-35), bahkan dibawah Philipina (peringkat ke-44) dan Vietnam (peringkat ke-53).  Penyebab rendahnya kinerja logistik nasioanal adalah a) masih rendahnya tingkat penyediaan infrastruktur baik kuantitas maupun kualitas, (b) masih adanya pungutan tidak resmi dan biaya transaksi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, (c) masih tingginya waktu pelayanan ekspor-impor dan adanya hambatan operasional pelayanan di pelabuhan, (d) masih terbatasnya kapasitas dan jaringan pelayanan penyedia jasa logistik nasional, dan (e) masih rendahnya kompetensi SDM logistik nasional. Sementara itu Indonesia juga perlu mempersiapkan diri menghadapi integrasi jasa logistik ASEAN  pada tahun 2013 sebagai bagian dari pasar tunggal ASEAN tahun 2015 dan integrasi pasar global.

Berdasarkan kepedulian terhadap kondisi di atas, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) – Dr. I ketut Mardjana yang merupakan Pembina Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia (YPBPI) meminta kepada pengurus YPBPI yang terdiri dari Roosdar Dewi, Dra.Psi., MM. (Ketua); Djoko Setia Budiantoro, SE.,Ak., MM (Sekretaris); Husen, SE. yang kemudian digantikan Hasanuddin, SE.,Ak. (Bendahara), untuk mendirikan Perguruan Tinggi Logistik.

Pada awal pertengahan tahun 2011, YPBPI  membentuk satuan tugas (satgas) yang terdiri dari Dr. Ir. Agus Purnomo, MT.; I Wayan Kemara Giri, S.Sos., MSi.; dan Nova Indah Siregar, ST., MT. Setelah Satgas melakukan pengkajian yang matang maka  bentuk perguruan tinggi yang akan diusulkan ke Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah sekolah tinggi yang dinamai Sekolah Tinggi Manajemen Logistik (STIMLOG). Pada tanggal 24 Oktober 2011, Satgas mensubmit Formulir-1 (F1), Formulir-2 (F2), Formulir-3 (F3) beserta dokumen pendukung ke Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Dikti untuk pendirian STIMLOG.

Berbagai macam tantangan yang dihadapi satgas untuk mendirikan STIMLOG, salah satu yang signifikan adalah bahwa Logistik belum diakui sebagai salah satu bidang ilmu sehingga dalam nomenklatur Dikti bahwa Logistik belum diakui sebagai program studi. Seiring dengan ditandatanganinya Peraturan Presiden RI No. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional pada tanggal 5 Maret 2012, yang pada lampirannya memuat program aksi yang mengamanatkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta kementerian terkait lainnya untuk mendukung pendirian institusi logistik dan rantai pasok, maka tim Sistem Logistik Nasional (Sislognas) yang dibentuk oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membuat Rancangan Logistik Sebagai Salah Satu Cabang Keilmuan dan Program Studi.

Pada tanggal 30 November 2012, rancangan tersebut dikirim kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat pengantarnya ditandatangani oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian – M. Hatta Rajasa. Kemudian pada tanggal 23 Maret 2013, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi – Djoko Santoso, membalas surat tersebut yang isinya “Mengakui dan menetapkan bahwa Logistik merupakan sebagai salah satu bidang ilmu dan dapat menjadi program studi pada rumpun ilmu terapan (rumpun ke-6 dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2012)”.  Menurut Penjelasan UU No. 12/2012, yang dimaksud Rumpun ilmu terapan merupakan rumpun Ilmu  Pengetahuan dan Teknologi yang mengkaji dan mendalami aplikasi ilmu bagi kehidupan manusia antara lain pertanian, arsitektur dan perencanaan, bisnis, pendidikan, teknik, kehutanan dan lingkungan, keluarga dan konsumen, kesehatan, olahraga, jurnalistik, media massa dan komunikasi, hukum, perpustakaan dan permuseuman, militer, administrasi publik, pekerja sosial, dan transportasi.

Setelah melengkapi berbagai macam persyaratan yang ditentukan oleh Dikti serta dukungan penuh dari YPBPI serta  Tim Sislognas Kementerian Perekonomian maka pada tanggal 22 Juli 2013, Diterbitkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudaayaan RI No. 275/E/O/2013 tentang izin pendirian Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia (STIMLOG). Dengan demikian mulai Tahun Akademik 2013/2014, STIMLOG mulai beroperasi dan merupakan Perguruan Tinggi Manajemen Logistik untuk jenjang strata-1 (S1) yang pertama di Indonesia.